Kisah Suatu Lahan

Ada hal yang terlalu rumit untuk dipahami. Setelah dijelaskan pun ga menjamin they'll get the point. Kalo sudah begitu, sepertinya lebih baik kalau ga diceritain. Lagipula tidak ada yang bertanya.


Seberapa luas lahan sabar milik seseorang? Sejatinya tak terbatas. Beberapa ujian sabar "jenis baru", mungkin akan memangkas/membakar hijau lahanmu. Biar sedikit seru, mari kita tambahkan plot twist. Akankah kamu tetap mengajak seseorang masuk ke lahanmu meski kamu tau bahwa dia punya niatan untuk membakarnya?

Entah apa alasannya, mungkin karena lahanmu menghasilkan buah yang lebih manis? Sehingga harga jualnya lebih tinggi dan jauh menguntungkan tengkulak.

Kita kurangi sedikit kadar ekstrimnya.

Bagaimana jika tanpa dia tau, kau tau kalau dia pernah berkata,
"hey tengkulak, jangan lagi melirik hasil lahannya. Tak taukah rasa manis buah itu berasal dari pupuk beracun?"
dibelakangmu.

Padahal itu lahan yang kau beli kaki demi kaki... Seperti tak percaya, saat mendengar terasa ada sesuatu yang panas dalam dada, tak terbendung. menetes. Ia adalah tetangga sebelah rumahmu. Ia yang paling tahu betapa basahnya kaos kumalmu dan kotornya sepatumu sepulang dari lahan. Ia yang dulu tak lupa selalu kau beri beberapa buah saat waktu panen tiba.

Kembali ke pertanyaan awal.. Seberapa luas sabarmu? Kamu bisa mendatanginya sekaligus menjelaskan di depan tengkulak, "itu tidak benar!" kemudian mengunyah buah kencang-kencang.

Tapi tak kau lakukan. Karena jika memang hasil ladangmu beracun, tak lama lagi akan jatuh korban. Dengan kata lain, tanpa disuarakan pun kebenaran tidak akan salah berpihak.

Kamu memilih diam.
Kembali fokus ke lahan agar panen kali ini lebih banyak dan dapat memenuhi permintaan tengkulak lain
yang mempercayaimu.


OPI, line '93
Menyelami lautan kata bergerak.
Bak peri saat menabur bubuk putih ajaib dalam loyang.
Why so serious?

Catch more at @opnkp

No comments:

Post a Comment