Lumpia Gang Lombok

Sebagai penutup di bulan mei ini, saya akan mereview salah satu snack atau jajanan atau oleh-oleh khas dari kota Semarang. Hampir 3 tahun tinggal di kota Lumpia kalo belum pernah nyobain si lumpia legenda kok rasanya belum afdol, hehehe. Kalo saya sih termasuk yang doyan sama Lumpia, karena memang tidak sedikit yang ga terlalu suka dengan lumpia, salah satu penyebabnya karena bau rebung yang dominan.


Lumpia dibuat pertama kali oleh seorang keturunan Tionghoa yang menikah dengan orang Indonesia (Tjoa Thay Yoe dan Wasih), dan menetap di Semarang. Mungkin ini juga menjawab mengapa Lumpia gang lombok ini terletak di daerah pecinan, bersebelahan dengan salah satu kelenteng tertua di kota Semarang, Kelenteng Tay Kak Sie Gang Lombok. Lebih mudahnya lagi terletak di dekat Pasar Johar, Semarang.


Terdapat enam jenis lumpia semarang dengan cita rasa yang berbeda-beda. Tiga jenis diantaranya (aliran Gang Lombok-Siem Swie Kiem, aliran jalan pemuda-alm. Siem Swie Hie, dan aliran jalan mataram-alm. Siem Hwa Nio) yang berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing-Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lumpia Semarang.

Lumpia gang lombok tercatat sebagai penyandang generasi tertua lumpia di semarang dengan Siem Swie Kiem sebagai generasi ketiga Lumpia gang Lombok Semarang. Kedai ini buka dari jam 08.00 pagi, bisa dibungkus ataupun santap ditempat.


Bagi yang belum tau dan baru denger yang namanya Lumpia, jadi lumpia tuh makanan yang berisi rebung, telur, daging ayam, atau udang, yang telah dimasak terlebih dahulu, baru kemudian di balut dengan lapisan kulit lumpia. Bisa langsung dimakan (lumpia basah) atau pun digoreng terlebih dahulu untuk mendapat tekstur yang crispy pada kulit lumpia (lumpia goreng), disantap bersama bubur manis kental berwarna kecoklatan dengan cincangan bawang putih segar diatasnya, daun selada, dan sejenis daun bawang-tapi hanya batang bawahnya saja, atau kucai ya(?) gatau namanya -_-"




4/5
Rp. 12.000

Taraaaa! Satu porsi lumpia goreng :)
Kalau tidak terlalu suka bawang, bawang+bubur manisnya jangan dicampur ya, karena rasa bubur manisnya bakalan jadi "nonjok" bawang banget. Saya yang biasa aja dengan bawang jujur agak kaget, hehe.
Cara makan lumpia versi saya:
pada sendok susun lumpia+bubur manis+acar+kucai...
Hmm.. dominan rasa bawang, berpadu dengan gurihnya lumpia, tapi gajadi eneg karena ada acar timun yang seger bangettt asem-asem manis, dan tekstur crispy dari kulit lumpia goreng, semuanya melebur menjadi satu dalam mulut :D
Sensasinya bedaaaa banget dengan sekedar makan lumpia goreng biasa. Bagi yang suka pedas (sama kaya saya) tetep disediakan cabe.

"Lain kali kalau mau pesen yang basah+goreng bilangnya merah putih", dapet tips dari salah satu pelanggan ;)
Manteeeb deh~ 

begini nih.. 


Isinya melimpah, tanpaaa bau rebung ataupun amis sama sekali. Mungkin karena selalu fresh kali ya.. saat disana suasana dapur (emang open kitchen) gapernah ga lengang, selalu hectic banget dengan tugas masing-masing. Selalu bikin lagi dan bikin lagi, karena memang selalu ada aja pembeli yang dateng.


Wedang tahu 

Ada bapak-bapak wedang tahu yang stand by tepat di sebelah meja-kursi kedai, boleh pesen untuk temen makan lumpia, atau cukup dengan air putih gratis dari lumpia.


Selamat makan lumpia! :)


Sumber:
seputarsemarang lunpia gang lombok
wikipedia.org Lumpia semarang

OPI, line '93
Menyelami lautan kata bergerak.
Bak peri saat menabur bubuk putih ajaib dalam loyang.
Why so serious?

Catch more at @opnkp

No comments:

Post a Comment